Saat Didiagnosis Kanker, Banyak Pasien yang Ingin Bunuh Diri



Risiko bunuh diri dan kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat secara tiba-tiba setelah adanya diagnosis kanker. Banyak pasien yang ingin bunuh diri setelah didiagnosis kena kanker.

Berdasarkan penelitian 6 juta orang Swedia yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, seminggu setelah didiagnosis kanker, pasien memiliki kemungkinan 12,6 kali lebih banyak melakukan bunuh diri daripada orang-orang berlatar belakang sama namun bebas kanker.

Pasien yang baru didiagnosis kanker juga 5,6 kali lebih banyak meninggal karena serangan jantung atau komplikasi kardiovaskular lainnya dalam 7 hari pertama.

"Kita harus berasumsi bahwa ini adalah dampak psikologis dari berita tersebut," kata Dr. Ilan Wittstein, ahli jantung di John Hopkins University School of Medicine di Baltimore yang tidak terlibat dalam studi seperti dilansir dari LA Times, Kamis (5/4/2012).

Menurut Wittstein, ini bukanlah data yang menunjukkan adanya kanker namun stres fisik akibat kanker-lah yang menyebabkan orang meninggal.

"Mereka adalah orang-orang yang baru didiagnosis dan dalam waktu yang sangat singkat meninggal karena penyakit jantung, jauh sebelum pengobatan kankernya dimulai," katanya.

Peneliti memeriksa catatan 6.073.240 orang yang lahir di Swedia dan mengaitkannya dengan daftar Cancer, Causes of Death and Migration nasional. Karena setiap orang memiliki nomor identifikasi yang unik, peneliti pun bisa memilih siapa saja yang mendapatkan diagnosis kanker dan mencari penyebab kematiannya.

Peneliti menemukan bahwa risiko bunuh diri atau kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat dalam minggu-minggu pertama, ketika stres karena diagnosis berada pada tingkatan tertinggi namun kembali datar selama beberapa bulan.

Setelah setahun, risiko bunuh diri bagi pasien kanker 80 persen lebih tinggi daripada pasien penyakit selain kanker dan resiko kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat hingga 20 persen.

Jenis kanker serius lainnya tampaknya akan dikorelasikan dengan risiko bunuh diri tertinggi. Sebagai contoh, pada 12 minggu pertama, risiko bunuh diri diantara pasien kanker paru-paru 12,3 kali lebih tinggi, sementara bagi pasien kanker kulit hanya 1,4 kali lebih tinggi. Pola yang sama juga berlaku untuk kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Bahaya yang terjadi dalam minggu-minggu pertama itu juga muncul lebih tinggi pada pasien muda. Misalnya, pasien berusia di bawah 55 tahun memiliki risiko akibat kematian kardiovaskularnya meningkat 11,9 kali selama empat minggu pertama setelah didiagnosis, dibandingkan dengan pasien berusia 65-74 tahun yang risikonya naik hanya 5,2 kali lipat.

Ini mungkin karena sebagian pasien yang lebih tua sebelumnya memiliki kondisi jantung yang lebih baik dan lebih waspada terhadap masalah kardiovaskular, kata peneliti.

"Dampak psikologis dari diagnosis kanker mungkin lebih besar dari apa yang didokumentasikan di dalam studi ini," kata peneliti senior Unnur Valdimarsdottir, ahli epidemiologi di University of Iceland di Reykjavik.

Ia pun mencatat bahwa peneliti hanya menghitung kematian, bukan kerusakan yang tidak terhitung dari serangan jantung yang tidak mematikan dan usaha bunuh diri yang gagal.

Namun penemuan ini tetap menunjukkan bahwa sebelum kesehatan pasien dikompromikan dengan kemoterapi atau dipengaruhi oleh perkembangan penyakit, diagnosis kanker mungkin dapat menyebabkan konsekuensi yang mematikan secara tiba-tiba. Risiko tersebut harus diketahui oleh para tenaga medis dan ahli kesehatan mental, kata Valdimarsdottir.

"Kami berharap bisa meningkatkan kesadaran bahwa sumber daya dari sistem perawatan kesehatan perlu diarahkan untuk hal-hal seperti ini," katanya.

Wittstein sepakat bahwa studi tersebut juga harus melibatkan ahli kanker untuk memantau gejala-gejala stres jantung pada pasien-pasiennya. Mungkin pasien juga harus segera meminum aspirin dan pengobatan rendah kolesterol setelah menerima kabar buruk tersebut.

"Kami pun jadi lebih waspada saat memperhatikan kondisi penyakit seseorang dan mungkin bahkan harus memperlakukan mereka secara profilaktik," kata Wittstein.


(source: detikhealth.com)

0 comments:

Poskan Komentar

 

Nine Lounge Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger